Seri Tata Kelola BUMD: Dari Kepatuhan ke Penciptaan Nilai — bagian 8 dari 10. Lihat seluruh seri
Mengapa dua BUMD dengan regulasi, organ, dan prosedur yang nyaris sama dapat menempuh nasib yang berbeda? Sebagian jawabannya terletak pada kualitas proses. Namun proses itu sendiri berakar pada sesuatu yang lebih dalam: nilai-nilai yang dipegang organisasi.
Struktur dapat memaksa kepatuhan. Tetapi hanya etika dan integritas yang membuat tata kelola hidup sebagai keyakinan dan perilaku.
Etika melampaui kepatuhan
Etika sering disempitkan menjadi kepatuhan: selama tidak melanggar ketentuan, organisasi dianggap etis. Padahal keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. Kepatuhan bertanya apakah ini diperbolehkan?, sedangkan etika bertanya apakah ini benar, adil, dan sesuai amanah? Sebuah keputusan bisa patuh secara formal namun tetap tidak patut, misalnya laporan yang benar secara teknis tetapi menyembunyikan informasi yang relevan bagi pemangku kepentingan.
| Aspek | Kepatuhan formal | Etika sebagai fondasi |
|---|---|---|
| Pertanyaan inti | Apakah ini diperbolehkan? | Apakah ini benar dan sesuai amanah? |
| Sumber dorongan | Aturan dan sanksi | Keyakinan dan nilai |
| Cakupan | Yang diatur | Termasuk yang belum diatur |
| Hasil | Pemenuhan minimum | Kualitas keputusan dan kepercayaan |
Fondasi, bukan pelengkap
Etika tidak sejajar dengan struktur, proses, dan hasil. Ia berada di bawah ketiganya sebagai fondasi. Struktur tanpa etika mudah disalahgunakan, proses tanpa integritas mudah menghasilkan keputusan yang bias, dan hasil yang dicapai dengan cara tidak patut tidak dapat disebut hasil tata kelola yang baik.
Etika juga tidak hanya relevan bagi pimpinan puncak. Ia harus hadir dalam setiap keputusan, dari rekrutmen di unit SDM sampai penetapan tarif di tingkat Direksi. Etika tidak cukup dideklarasikan dalam kode etik; ia perlu dikuatkan melalui keteladanan, konsistensi konsekuensi, dan sistem akuntabilitas.
Bukan penentu tunggal
Etika adalah syarat yang diperlukan, tetapi tidak bekerja sendirian. Kualitas tata kelola juga dipengaruhi kepemimpinan, kompetensi, budaya, dan kapasitas organisasi. Karena itu, ketika tata kelola gagal, respons yang tepat bukan hanya menambah prosedur, tetapi juga bertanya lebih dulu: apakah ini benar, apakah ini adil, dan apakah ini sesuai amanah yang dipercayakan kepada kami?
Baca juga: Struktur dan Proses dalam Pengadaan: Ketika Integritas Menentukan Hasil · Ilusi Tata Kelola: Ketika Kelengkapan Belum Menjadi Efektivitas
Rujukan: disarikan dari buku BUMD dan Ilusi Tata Kelola — Mengapa Banyak BUMD Gagal Menciptakan Nilai, Bab 3.1. Diagram bersumber dari buku yang sama.
