Masalahnya: ukuran yang terlalu sempit
Di banyak daerah, kinerja BUMD masih dibaca terutama dari laba, ROE, dan setoran dividen. Ukuran itu penting, tetapi tidak cukup. BUMD didirikan bukan hanya untuk mencari laba, melainkan juga untuk menyelenggarakan kemanfaatan umum dan mendukung perekonomian daerah, sebagaimana ditegaskan dalam UU 23/2014 dan PP 54/2017.
Akibatnya, dua hal sering terjadi:
- BUMD layanan publik tampak “gagal” karena labanya tipis, padahal cakupan dan keandalan layanannya meningkat.
- BUMD yang untung tampak “berhasil” walaupun perlahan menjauh dari mandat pendiriannya, atau labanya diperoleh dengan mengorbankan kualitas layanan.
Penilaian yang hanya melihat satu dimensi mendorong keputusan yang keliru: target laba dinaikkan tanpa melihat dampaknya pada pelanggan, atau sebaliknya inefisiensi dibiarkan atas nama pelayanan publik.
Apa yang ditawarkan TVMF™
Triple Value Measurement Framework™ (TVMF™) mengoperasionalkan tiga dimensi nilai BUMD ke dalam indikator yang terukur, dapat diverifikasi, dan dipakai sebagai dasar keputusan Direksi serta Dewan Pengawas/Komisaris.

| Dimensi | Fokus pengukuran | Contoh indikator | Sumber data |
|---|---|---|---|
| Economic Value | Kesehatan, efisiensi, dan keberlanjutan finansial | ROE, ROA, BOPO, rasio likuiditas, kemandirian finansial | Laporan keuangan audited |
| Public Value | Kualitas, akses, keterjangkauan, dan dampak layanan | Indeks kepuasan pelanggan, cakupan layanan, tingkat gangguan, keterjangkauan tarif | Survei, rekam operasional |
| Strategic Value | Kontribusi pada tujuan pembangunan daerah | Program prioritas RPJMD yang didukung, Mandate Alignment Score, ketahanan sektoral | Review strategis tahunan |
Indikator pada setiap dimensi dipilih sesuai sektor. Indikator Public Value untuk BUMD air minum, misalnya, berbeda dengan BPR milik daerah atau pengelola pasar.
TVI™: membaca keseimbangan, bukan satu angka
Triple Value Index™ (TVI™) merangkum hasil TVMF™ menjadi satu profil penciptaan nilai. Kepala daerah, Dewan Pengawas, dan Direksi dapat melihat apakah ketiga dimensi tumbuh seimbang atau timpang.
TVI™ tidak boleh dipakai sebagai satu skor tunggal. Skor total yang baik tidak boleh menutupi kerugian yang tidak berkelanjutan, kegagalan layanan kritis, pelanggaran regulasi, atau masalah integritas. Karena itu TVI™ selalu dilengkapi:
- skor per dimensi dan tren beberapa periode;
- ambang minimum untuk indikator kritis;
- red flags yang wajib ditindaklanjuti apa pun skor totalnya;
- penjelasan penyebab, bukan hanya angka.
TVI™ membantu judgement, tetapi tidak menggantikannya.
Contoh: dua BUMD dengan laba yang sama
Bayangkan dua BUMD air minum dengan laba bersih yang hampir sama. BUMD A menaikkan cakupan layanan dari 62% menjadi 70% dan menurunkan kehilangan air. BUMD B mempertahankan laba dengan menunda investasi jaringan sehingga gangguan layanan meningkat. Penilaian berbasis laba menempatkan keduanya setara. TVMF™ menunjukkan perbedaannya: Public Value BUMD A naik, sedangkan BUMD B memicu red flag pada keandalan layanan.
Mulai dari mana
- Petakan mandat pendirian BUMD dan prioritas RPJMD yang relevan.
- Pilih 3–5 indikator per dimensi yang datanya tersedia dan dapat diverifikasi.
- Tetapkan ambang minimum dan red flags bersama Dewan Pengawas/Komisaris dan KPM/RUPS.
- Masukkan indikator ke Rencana Bisnis, RKA, dan KPI, lalu evaluasi setiap triwulan.
- Gunakan siklus Measure → Understand → Decide → Act → Learn → Improve: pengukuran tanpa keputusan hanya menambah laporan.
Alat bantu: Modul Penilaian Kinerja BUMD dan Form Evaluasi RKAP di BUMDLAB, serta framework Balanced Scorecard untuk menurunkan indikator ke KPI.
Artikel ini disusun Tim BUMDHUB sebagai bahan pembelajaran. Framework bersifat kerangka konseptual; indikator, bobot, dan ambang perlu disesuaikan dengan mandat, sektor, dan kondisi masing-masing BUMD.
