Seri Tata Kelola BUMD: Dari Kepatuhan ke Penciptaan Nilai — bagian 1 dari 10. Lihat seluruh seri
Perdebatan tentang laba BUMD hampir selalu berujung pada dua kubu. Kubu pertama berpendapat bahwa karena BUMD adalah perusahaan, laba harus menjadi tujuan utama. Kubu kedua berpendapat bahwa karena BUMD menjalankan fungsi pelayanan publik, laba tidak terlalu penting. Keduanya mengandung kebenaran, tetapi keduanya juga keliru bila berdiri sendiri.
Profit bukan tujuan akhir BUMD. Profit adalah prasyarat yang memungkinkan BUMD terus menjalankan mandatnya.
Profit sebagai kemampuan membiayai masa depan
Laba adalah sumber daya yang membuat organisasi mampu berinvestasi, memelihara aset, mengembangkan teknologi, memperluas layanan, dan meningkatkan kompetensi pegawai. Tanpa laba yang memadai, BUMD semakin bergantung pada dukungan fiskal pemerintah daerah, dan ketergantungan itu lambat laun membatasi ruang geraknya. Dengan cara pandang ini, profit adalah kemampuan BUMD membiayai masa depannya sendiri.
Profit juga bekerja sebagai pengungkit. Bank daerah yang sehat dapat memperluas pembiayaan UMKM; BUMD pangan yang sehat dapat membangun gudang yang lebih baik dan memperkuat kemitraan dengan petani. Semakin sehat keuangannya, semakin besar kapasitas BUMD untuk menghasilkan manfaat publik.

Laba yang berkelanjutan lahir dari proses yang baik
Laba yang bertahan lama tidak muncul kebetulan. Ia lahir dari pegawai yang kompeten, proses yang efektif, pelanggan yang terlayani dengan baik, dan budaya yang sehat. Karena itu, organisasi yang mengejar laba sebagai obsesi sering mengambil jalan pintas: memangkas layanan atau menunda investasi pada manusia dan teknologi. Hasilnya mungkin terlihat baik setahun, tetapi fondasinya terkikis.
Ketika tarif tidak menutup biaya
Pada layanan dasar seperti air minum, pemerintah daerah kerap menetapkan tarif di bawah biaya ekonomi demi keterjangkauan. Selisih itu membuat laba tampak kecil, padahal pada hakikatnya adalah subsidi layanan publik. Yang dibutuhkan bukan menutup mata terhadap laba, melainkan kejelasan: berapa biaya mandat itu, bagaimana kompensasinya, dan siapa menanggung apa.
Cara pandang inilah yang perlu diubah. Profit bukan musuh mandat publik. Ia adalah konsekuensi dari penciptaan nilai yang baik, sekaligus bahan bakar bagi nilai berikutnya.
Baca juga: Bukan Laba atau Layanan, tetapi Keduanya · Mandat Pendirian: Titik Awal Setiap Keputusan BUMD
Rujukan: disarikan dari buku BUMD dan Ilusi Tata Kelola — Mengapa Banyak BUMD Gagal Menciptakan Nilai, Bab 1.3. Diagram bersumber dari buku yang sama.
